Kamis, 03 November 2016

Isyarat Allah Di Usia 40 Tahun



ALLAH Mengisyaratkan Hamba-NYA Ketika Mencapai Usia 40 Tahun 





بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ



Judul di atas perlu untuk direnungkan, mengapa…? karena ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa pada usia empat puluh tahun ini, usia penuh teka-teki dan penuh misteri. Namun bagi kaum muslimin yang akan mendekati usia 40 tahun jadikanlah sebagai persiapan langkah kehidupan berikutnya, bahkan bagi kaum muslimin yang usianya  sudah mencapai di atas 40 tahun sudah selayaknya untuk lebih merenung dan mengoreksi diri, karena usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar2 meninggalkan masa mudanya dan beralih ke masa dewasa yang disebut masa kuhula atau disebut juga masa setengah baya.



Dan dalam usia inilah manusia telah memiliki kematangan dalam cara berpikir dan bertindak, maka diharapkan bahwa jika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun keatas cara berpikir dan tindakannya sudah dengan matang dan penuh perhitungan. 



Bahkan seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun.



Al-Tsa’labi اللهُ رَحِمَهُ berkata, “Sesungguhnya الله menyebutkan usia 40 tahun karena ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan maupun keselamatannya.



Pada usia keistimewaan 40 tahun inilah, سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله  telah menyebutkan usia 40 tahun dengan tegas di dalam al-Qur’an dan menjadi perhatian khusus bagi umat muslim, oleh karena itu bila kita perhatikan dari kehidupan as-Salafush Shalih dan para ulama terdahulu saat memasuki usia ini, mereka berusaha mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya hari-hari terbaik dalam hidupnya.

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله berfirman :



وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ اِحۡسَانًا‌ ؕ حَمَلَـتۡهُ اُمُّهٗ كُرۡهًا وَّوَضَعَتۡهُ كُرۡهًا‌ ؕ وَحَمۡلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوۡنَ شَهۡرًا‌ ؕ حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرۡبَعِيۡنَ سَنَةً  ۙ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰٮهُ وَاَصۡلِحۡ لِىۡ فِىۡ ذُرِّيَّتِىۡ ؕۚ اِنِّىۡ تُبۡتُ اِلَيۡكَ وَاِنِّىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ‏ 



“KAMI perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: "Ya ROBB-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridho’i; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri". (QS. Al-Ahqaf: 15).



Menurut para ahli ilmu tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat di atas ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupan yang baik, baik dari segi fisik, pikiran, perasaan, karya, maupun dari segi agamanya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih ke usia dewasa. Apa yang dialami pada usia 40 tahun sifatnya stabil, mantap dan kokoh dalam pendirian dan perilakunya. Pendirian dan perilaku ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.



Oleh karena itu tidaklah heran jika para Nabi diutus untuk berda’wah pada usia 40 tahun. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan Nabi2 yang lain, termasuk diantaranya Nabi Yusuf عليه السلام yang ketika masih kecil bermimpi melihat 11 bintang, matahari dan bulan sujud kepadanya dan ketika berusia 40 tahun baru diangkat menjadi Nabi meskipun ada pengecualian sebagian dari mereka.



Surat Al-Ahqaf ayat 15 di atas mengisyaratkan bagi kita bahwa, saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada الله juga kepada orang tuanya, memohon kepada-NYA, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan rasa syukur ini. 



Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin-NYA, sehingga kita harus meminta hal itu kepada-NYA.

Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم kepada Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه  “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat :



عِبَادَتِك وَحُسْنِ وَشُكْرِك ذِكْرِ عَلَى أَعِنِّ اللَّهُمَّ  

      

 Ya الله bantulah aku untuk berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah kepada-MU.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang kuat).



Karena sesungguhnya seorang hamba pasti sangat butuh kepada pertolongan ROBB-nya dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir-NYA. (Dinukil dari Subulus Salam, Imam al-Shan’ani).



Sebenarnya bersyukur itu sepanjang umur. Dan dikhususkan pada usia 40 tahun ini karena pada saat usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat الله yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.



Imam Al-Qurthubi اللهُ رَحِمَهُ - didalam kitab tafsirnya, beliau  mengatakan bahwa :

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله   menyebutkan orang yang sudah mencapai usia 40 tahun, maka sesungguhnya telah tiba waktunya dirinya untuk mengetahui nikmat سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله

yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya.



Sesungguhnya hakikat syukur itu mencakup tiga komponen; hati, lisan, dan anggota badan. Hati dengan mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari pemberian الله - Sedangkan lisan dengan menyebut-nyebut dan menyandarkan nikmat itu kepada-NYA serta memuji-NYA. Sementara anggota badan  adalah dengan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-NYA, yakni untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-NYA. Oleh karena itu pada ayat di atas disebutkan, “Dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi.



Janganlah melupakan kedua orang tua

Perhatikan Surat Al-Ahqaf, ayat 15 :

KAMI perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tua ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya ROBB-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (QS. Al-Ahqaf: 15).



Perintah berbuat kebaikan kepada orang tua dalam ayat tersebut di atas mencakup segala bentuk seperti memenuhi nafkah orang tua, memenuhi kebutuhannya, mentaati perintahnya yang ma’ruf, menghidarkan dari bahaya, mengobatkannya jika sakit, menghiburnya jika sedih, dan memohonkan ampun dan doa untuk keduanya, serta yang lainnya.



Berbuat kebaikan kepada kedua orang tua itu bagian dari ibadah kepada  الله - Sehingga tidak boleh dalam berbuat kebaikan tersebut melanggar nilai-nilai ketauhidan, walaupun hak kedua orang tua itu besar terhadap anak, namun seorang anak tidak boleh mentaati kedua orang tuanya dalam maksiat kepada الله dan nikmat yang kedua orang tua peroleh itu berasal dari الله juga.



Dan didalam mentauhidkan سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله - kita harus dengan ikhlash ibadah kepada-NYA, dan istiqamah di atasnya, namun kenyataannya saat الله perintahkan untuk mentauhidkan-NYA ada di antara hamba-NYA yang menyambut dan ada pula yang menentang-NYA. Sama halnya dengan perintah berbakti kepada orang tua, ada manusia yang berbakti kepada orang tuanya dan ada pula yang bahkan mendurhakai kedua orang tuanya.



Kaum muslimin yang dirahmat سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله saat seseorang memasuki usia 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab di tengah keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Anak-anak memerlukan biaya yang lebih untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya, pastinya sudah renta dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya.



Disinilah sering seseorang melupakan orang tuanya karena konsentrasinya yang lebih fokus terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan bertambahnya usia semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya kepada dirinya.

Sehingga disebutkan dalam hadits, “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga (dengan itu).” Dalam riwayat lain, “Tapi keduanya tidak bisa memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Imam Ahmad dan lainnya).



Jangan Lupakan Keturunan

Sesudah seorang muslim diperintah harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan mengerjakan amal shalih untuk dirinya, janganlah lupa terhadap anak keturunannya. Ia juga wajib memperhatikan pendidikan dan pengarahan mereka, agar menjadi orang yang taat kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله - Karena mereka (anak2) adalah amanat yang harus diarahkan untuk taat kepada ROBB-nya dan setiap orang tua harus mempertanggung jawabkan amanat ini di hadapan سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله  kelak di hari Kiamat nanti.



سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله pun sudah menjelaskan pada firman-NYA pada surat At-Tahrim (66), ayat 6 berikut ini :



يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا وَّقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُوۡنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ



Hai orang2 yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat2 yang kasar, keras dan tidak mendurhakai الله terhadap apa yang diperintahkan-NYA kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.



Dan sesungguhnya di antara balasan baik dari amal shalih seseorang adalah diperbaikinya keturunannya. Perilaku yang baik kedua orang tuanya akan berdampak baik kepada perilaku anaknya. Ini juga menjadi pelajaran dan hal yang sangat penting, karena dalam melakukan pendidikan kepada anak haruslah orang tua memulai dari menshalihkan diri mereka sendiri dengan ilmu dan amal shalih dan ini akan menjadi suri tauladan bagi anak2nya, dan akan berdampak baik kepada anak2nya, yang semua ini merupakan balasan bagi kedua orang tuanya yang mempunyai keturunan anak2 yang shalih.



Syaikh al-Sa’di berkata dalam menafsirkan surat Al-Ahqaf ayat 15 di atas, “Sesungguhnya baiknya orang tua dengan ilmu dan amal termasuk sebab yang besar untuk baiknya anak-anak mereka.



Selain itu, berdoa sebagai bagian dari tawakkal kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله dalam usaha tidak boleh dianggap ringan. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari jemari سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله yang dapat dibolak-balikkan sesuai kehendak-NYA. Oleh karena itu, sering2lah berdoa kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله agar dianugerahkan anak2 yang shalih.



Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ada seorang lelaki yang mengadukan tentang anaknya kepada Thalhah bin Musharrif رضي الله عنه  - maka Thalhah berkata kepadanya, “Minta tolonglah dalam masalah anakmu dengan ayat,



رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰٮهُ وَاَصۡلِحۡ لِىۡ فِىۡ ذُرِّيَّتِىۡ ؕۚ اِنِّىۡ تُبۡتُ اِلَيۡكَ وَاِنِّىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ

 Ya ROBB-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).



Memperbaharui Taubat

Usia 40 tahun haruslah menjadi titik tolak dan pembaharuan taubat penyesalan seseorang atas dosa-dosa dan kufur nikmat selama hidupnya. Karena pada usia ini benar-benar telah merasakan banyaknya nikmat dan tidak sebandingnya rasa syukur terhadap-NYA. Maka pengakuan dosa pasti akan mengalir dari orang yang mau merenungkan masa lampaunya, sehingga dari situ lahir penyesalan, tumbuh istighfar dan taubat kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله



Oleh sebab itu, disebutkan dalam doa di atas,



اِنِّىۡ تُبۡتُ اِلَيۡكَ وَاِنِّىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ



 Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).



Imam Ibnu Katsir اللهُ رَحِمَهُ berkata, “Dan di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang-orang yang sudah berusia 40 tahun agar memperbaharui taubatnya kepada الله عَزَّ وَجَلَّ serta bertekad kuat atasnya.” Seseorang harus terus meningkatkan taubatnya saat usianya menginjak 40 tahun sampai ajal menjemputnya - والله اعلم 



Salah satu keistimewaan seseorang diusia 40 tahun kita bisa lihat dalam hadist Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم yang diriwayatkan dari Imam Ahmad اللهُ رَحِمَهُ :

العَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِرواه الإمام أحمد

Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, الله akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, الله akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-NYA. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, الله akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, الله akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, الله juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta الله akan mencatatnya sebagai tawanan الله di bumi” (HR. Imam Ahmad).



Hadits ini menyebut usia 40 tahun paling awal, yang dimasudkan disini bahwa orang yang mencapai usia 40 tahun ia memiliki sifat istiqamah dalam pengabdiannya kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله  - Dalam arti lain jika seseorang belum menyapai usia 40 tahun kemungkinan masih bisa diombang ambingkan oleh suasana dan keadaan dan masih belum mantap dalam pendirian dan perilakunya.



Seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun seperti waktu sudah masuk ashar, dimana teriknya matahari sudah berkurang, matahari sudah akan terbenam, ibarat bila  menjemur pakaian tidak akan kering, sudah senja dan sesaat lagi akan masuk waktu maghrib.

Sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم Qotadah رضي الله عنه  - berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia berhati-hati.” Maksudnya saat saat harus waspada.



Bahkan sahabat Abdullah bin Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.



Nasihat yang diungkapkan oleh dua sahabat besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada dan hati-hati dalam bertindak jika usianya telah mencapai 40 tahun. Ia harus meningkatkan amal kebajikan dan membiasakannya agar amal itu terus meningkat.



Atas dasar ini, para sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم - ketika mereka sudah mencapai usia 40 tahun, mereka konsentrasi beribadah. Mereka mulai menghabiskan hari-harinya untuk ibadah. Kesibukan mencari dunia mereka kurangi dan beralih pada kegiatan yang bersifat agama dan ibadah.



Imam asy-Syafi’i اللهُ رَحِمَهُ tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan dengan memakai tongkat. Jika ditanya kenapa? Jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi الله - aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya yang masih melekat dalam sangkar. Keadaanku sekarang seperti itu juga.



Sahabat Abdullah bin Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا  pernah menceritakan hadits dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم yang perlu dicamkan berkaitan dengan hal ini :

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم memegang kedua pundakku dan kemudian bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan kamu orang asing (perantau) atau pengembara (musafir). Abdullah bin Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا berkata, “Jika berada di waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika berada di waktu pagi, jangan menanti waktu sore. Pergunakanlah masa sehatmu untuk bekal di masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal di masa matimu.” (HR. Imam Bukhori).



Imam al-Syaukani اللهُ رَحِمَهُ berkata bahwa, “Para ahli tafsir berkata bahwasannya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله tidak mengutus seorang Nabi kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun.” (Tafsir Fathul Qadir V/18).



Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada umumnya, usia 40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi memiliki nilai lebih dan khusus.

Diceritakan, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi اللهُ رَحِمَهُ adalah seorang laki-laki yang shalih, cerdas, sabar, murah hati, berwibawa dan terhormat. Ia berkata, “manusia yang paling sempurna akal dan pikirannya adalah apabila telah mencapai usia 40 tahun. Itu adalah usia, di mana pada usia tersebut سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله mengutus Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم dan pikiran manusia akan sangat jernih pada waktu sahur.” (Lihat al-Wafyat A’yan, Ibnu Khalkan II/245).



Disebutkan tentang biografi al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi اللهُ رَحِمَهُ,Bahwa ketika mencapai usia 40 tahun ia berkonsentrasi untuk beribadah dan memutuskan diri dari hubungan dengan manusia untuk mendekatkan diri kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله dan ia berpaling dari semua urusan dunia dan umat manusia, seakan-akan ia tidak pernah kenal seorangpun dari mereka. Dan ia terus menyusun karya-karya tulisnya.

Ibrahim al-Nakhai اللهُ رَحِمَهُ berkata, “bahwa jika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya.” (Lihat al-Thabaqat al-Kubra VI/277).



Mahasuci ENGKAU, ya الله aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.



Bertakwalah kepada سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الله di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.



Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم - keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian disampaikan, semoga sharing ini bermanfaat untuk dijadikan ibrah dan menjadi nasihat untuk ana dan antum semua,  بَارَكَ اللهُ فيْكُمْ

Hanya milik الله - lah segala puji dan anugerah.


 


▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
                                                                                                                              privatebundas.blogspot.com
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Electricity Lightning