Senin, 07 November 2016

Alergi Obat


Pengertian Alergi Obat

 

Alergi obat adalah reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap obat-obatan tertentu yang Anda gunakan. Kondisi ini berbeda dengan efek samping obat yang umumnya tercantum pada kemasan maupun keracunan obat akibat overdosis.

Pada umumnya, alergi obat terjadi karena sistem kekebalan tubuh berusaha memerangi zat tertentu yang terkandung dalam obat tersebut. Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh menganggap obat sebagai substansi yang bisa menyakiti tubuh.



 

Gejala-gejala Alergi Obat

Reaksi alergi obat umumnya muncul secara bertahap seiring sistem kekebalan tubuh yang membangun antibodi untuk melawan obat tersebut. Reaksi ini mungkin tidak muncul secara langsung saat pertama menggunakan obat.

Pada tahap penggunaan pertama, sistem kekebalan tubuh akan menilai obat sebagai substansi berbahaya bagi tubuh kemudian mengembangkan antibodi secara perlahan-lahan. Pada penggunaan berikutnya, antibodi ini akan mendeteksi dan menyerang substansi dari obat tersebut. Proses inilah yang bisa memicu gejala-gejala alergi obat.

Sebagian besar alergi obat memiliki gejala yang ringan dan biasanya akan reda dalam beberapa hari setelah Anda berhenti meminum obat tersebut. Berikut ini adalah beberapa gejala umum dari alergi obat yang bisa Anda cermati.
  • Ruam atau bentol-bentol pada kulit.
  • Gatal-gatal.
  • Hidung beringus.
  • Batuk-batuk.
  • Demam.
  • Sesak napas atau napas pendek.
  • Mata terasa gatal atau berair.
  • Pembengkakan.
Meski demikian, reaksi alergi yang parah juga dapat memicu anafilaksis (reaksi alergi yang menyebabkan kegagalan fungsi sistem tubuh secara luas). Kondisi ini sangat serius dan bisa berakibat fatal sehingga memerlukan penanganan secepat mungkin.
Berhati-hatilah jika Anda mengalami reaksi alergi. Periksakan segera diri Anda ke dokter untuk mengetahui penyebabnya sehingga bisa dihindari.

Obat Apa Saja yang Bisa Menyebabkan Reaksi Alergi?

Hampir semua obat bisa memicu reaksi yang tidak diinginkan dari tubuh, tapi tidak semua reaksi termasuk alergi. Alergi obat disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh pada obat tertentu. Beberapa jenis obat yang berpotensi memicu reaksi alergi meliputi:
  • Antibiotik (misalnya, penisilin).
  • Anti inflamasi non-steroid.
  • Aspirin.
  • Krim atau lotion kortikosteroid.
  • Antikonvulsan.
  • Insulin.
  • Vaksin.
  • Obat-obatan untuk hipertiroidisme.
  • Serta obat-obatan untuk kemoterapi atau HIV.

Faktor-faktor yang Meningkatkan Risiko Alergi Obat

Tidak semua orang akan mengalami reaksi alergi akibat obat. Para pakar menduga ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko alergi obat pada seseorang. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:
  • Peningkatan pajanan terhadap obat tertentu, misalnya karena penggunaan yang berulang, berkepanjangan, atau dengan dosis tinggi.
  • Faktor keturunan. Risiko Anda untuk mengalami alergi obat akan meningkat jika ada anggota keluarga Anda memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu.
  • Pernah mengalami jenis alergi lain, misalnya alergi makanan.
  • Memiliki alergi terhadap obat lain. Contohnya, jika alergi terhadap penisilin, Anda juga berpotensi untuk mengalami alergi terhadap amoxicillin.
  • Mengidap penyakit yang menyebabkan tubuh rentan terhadap reaksi alergi obat, misalnya HIV.

Proses Diagnosis Alergi Obat

Sama seperti penyakit lain, tahap awal diagnosis alergi obat adalah dengan memeriksa kondisi kesehatan dan fisik Anda. Terutama, waktu kemunculan gejala, jenis obat yang digunakan, maupun tingkat keparahan serta perubahan pada gejala yang dialami. Jika dibutuhkan, dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan yang mendetail untuk memastikan diagnosis, misalnya:
  • Tes kulit. Obat-obatan yang dicurigai menyebabkan alergi akan diaplikasikan ke kulit dengan jarum, suntikan atau tempelan. Hasil positif memperlihatkan kulit memerah, gatal-gatal, atau muncul benjolan. Jika hal itu terjadi, Anda hampir pasti mempunyai alergi terhadap obat tersebut.
  • Tes darah. Tes ini jarang digunakan karena tingkat akurasi terhadap alergi obat sangat terbatas. Tapi, jika dokter menduga akan ada reaksi yang parah bila tes kulit dilakukan pada Anda, maka dokter kemungkinan akan melakukan tes darah. Tes ini juga berfungsi untuk mengetahui kondisi lain yang bisa memunculkan gejala yang Anda alami.

Langkah Penanganan dan Pencegahan pada Alergi Obat

Penanganan utama untuk alergi obat adalah dengan mengatasi dan meredakan gejala-gejala yang dialami. Langkah ini bisa dilakukan dengan berhenti mengonsumsi atau menggunakan obat yang menyebabkan alergi.
Pemberian antihistamin mungkin disarankan untuk menghalangi unsur kimia sistem kekebalan tubuh yang diaktifkan tubuh saat terjadi reaksi alergi. Penggunaan kortikosteroid dapat mengatasi inflamasi akibat reaksi alergi yang lebih serius.

Bagi yang mengalami anafilaksis, penderita membutuhkan penanganan secepatnya dengan suntikan epinefrin. Pasien juga sebaiknya menjalani perawatan di rumah sakit agar bisa mendapatkan bantuan pernapasan dan menstabilkan tekanan darah.

Selain mengobati, kita juga dapat mencegah munculnya alergi obat. Langkah utama dalam mencegah alergi obat adalah dengan menghindari obat yang menjadi sumber alergi. Contohnya dengan mengenakan gelang atau kalung penanda alergi jika memungkinkan, memberi tahu dokter atau tenaga medis tentang jenis obat yang bisa memicu reaksi alergi pada Anda. Apabila telah terjadi reaksi anafilaksis atau reaksi alergi obat yang berat, dokter mungkin akan meresepkan suntikan epinefrin. Bawalah selalu untuk berjaga-jaga apabila terjadi reaksi serupa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Electricity Lightning